Tawaran Investasi Lahan Pohon Jati, Adakah Risikonya

Tawaran Investasi Lahan Pohon Jati, Adakah Risikonya

Jakarta – Beragam investasi ditawarkan untuk masyarakat yang ingin meraup keuntungan. Salah satunya adalah tawaran investasi hutan kayu jati, yang diklaim pertama di Indonesia. Adakah risikonya? PT Harfam Jaya Makmur menawarkan investasi kepemilikan lahan hutan kayu jati dengan tawaran keuntungan yang besar, di lahan Bondowoso, Jawa Timur (Jatim). Ada beberapa paket yang ditawarkan, mulai dari kepemilikan 1.000 meter persegi hingga 9 hektar lahan kayu jati dengan 9.000 batang pohon jual bibit jati.

Para investor bakal diberikan lahan sesuai dengan yang dibelinya dan ditanami pohon jati oleh pihak Harfam. Investor harus menunggu selama 8 tahun hingga hutan kayu jati yang mereka beli mengalami masa panen. “8 tahun agar kayu jatinya harganya ekonomis. A3 atau berdiameter 30-39 cm, itu syarat dari kami. Agar harganya ekonomis, sekarang di pasar harganya Rp 12 juta/batang,” kata Marketing Executive Harfam, Dito Harwanto kepada detikFinance di Pameran BTN Properti Expo di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (18/8/2014).

Tanah yang telah dibeli investor adalah sertifikat hak milik (SHM) atas nama investor. Namun selama 8 tahun itu, investor hanya memegang legalisir dari sertifikat itu. Sedangkan sertifikat yang asli dipegang oleh pihak Harfam. Dito beralasan, agar segala urusan administrasi seperti pengurusan izin penebangan, sertifikat verifikasi legalitas kayu semua bisa dilakukan oleh pihak Harfam dengan mudah.

Selain itu, Dito juga menyebutkan, selama 8 tahun itu, Harfam masih memiliki saham atas pengelolaan lahan, sehingga ada jaminan bagi Harfam saham tersebut masih bisa dipegang selama investor tidak mengubah status kepemilikan lahan ke orang lain. “Si pemilik tanah bisa melakukan apapun terhadap tanahnya,” kata Dito. Jika setelah 8 tahun kerjasama antara investor dan Harfam berakhir, maka sertifikat tanah yang asli akan diserahkan pada investor.

“Tanah itu Harfarm beli dari tanah penduduk yang tidur tidak dipakai. Aman tidak sengketa, bukan tanah Perhutani atau milik pemerintah sehingga nanti bisa SHM dengan mitranya Harfarm,” katanya. Jika dalam kurun waktu kurang dari 8 tahun sesuatu terjadi pada perusahaan, seperti bangkrut, Dito mengatakan, investor bisa langsung meminta sertifikat asli atau datang ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk membuat surat sertifikat asli dengan bukti KTP, Kartu Keluarga, dan juga legalisir sertifikat yang dipegang investor.
“Karena Harfam pegang itu nggak mungkin bisa digadai. Itu sertifikat itu atas nama investor, sama istrinya. Bukan atas nama Harfam. Kalau saya sama notaris itu dilihat, KTP yang asli harus dibawa, nanti saya dianggap pencuri namanya. Nanti dicek dulu sama notarisnya. Yang mengeluarkan BPN mana,” papar Dito Selain itu, dikatakan Dito, Harfam juga memberikan garansi jika dalam kurun waktu 8 tahun, hutan kayu jati mengalami gagal panen. “Kalau gagal panen, sama Harfam digaransi buy back 150% dari investasi awal,” tambahnya.

Begitu juga jika ada pohon yang mati, atau tidak panen. Harfam pun berjanji akan memberikan garansi. “Kalau bibit itu mati, selama 12 bulan kita beri garansi semua full diganti bibitnya,” kata Dito. Investasi yang dibuka sejak 4 tahun lalu ini sudah memiliki 800 investor dengan 650 hektar lahan. Keuntungan yang didapat pun cukup menggiurkan. Dengan asumsi harga pohon jati Rp 15 juta/batang dalam 4-8 tahun ke depan, minimal investor mendapatkan keuntungan Rp 1,5 miliar dengan modal Rp 177 juta.

Keuntungan dilepas dengan sistem bagi hasil. Investor mendapatkan porsi 50%, Harfam mendapatkan porsi 40%, penduduk mendapat 5% dan karyawan Harfam mendapatkan 5%. Maka, dengan menunggu 8 tahun hingga masa panen datang, investor akan mendapatkan Rp 675 juta, plus lahan yang sudah jadi milik investor.